oleh

Gugatan PMH Akibat Hasil PA Hilang, Berakhir Damai

FASTER.ID,SEMARANG- Gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) atas hilangnya hasil laboratorium Patologi Anatomi (PA), yang diajukan seorang pasien asal Semarang, Novita Fajar Ayu Wardhani melawan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bunda berakhir damai, setelah berhasil dilakukan mediasi sebanyak empat kali di Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Perdamaian itu sebagaimana yang dituangkan dalam nota perdamaian meliputi tiga point penting, diantaranya adanya pemberian tali asih, keduanya saling memaafkan dan tidak memperpanjang masalah yang sudah dicapai titik perdamaian, ketiga biaya perkara ditanggung bersama.

Semua sudah ketemu titik perdamaian, memang ada suatu pemberian uang dari rumah sakit, tapi tidak bisa kami sebutkan nominalnya, yang diberikan dalam bentuk tali asih, sebagai bentuk perdamaian,”kata kuasa hukum Novita, Rezky Tamelah dan dan Lutfi Ulinuha, usai sidang putusan perdamaian.

Dalam amar putusannya, majelis hakim yang dipimpin, Aloysius Bayu Aji, menyampaikan setelah menerima laporan hakim mediator, Andi Riza, dan membaca isi perjanjian perdamaian, majelis hakim menjatuhkan putusan menghukum para pihak mentaati isi perjanjian yang dibuat, serta membebankan biaya perkara kepada para pihak masing masing dibebankan separuh.

Biaya perkara ditanggung bersama-sama. Naskah perdamaian kami bacakan pokoknya saja, sesuai isi yang sudah disepakati,”kata hakim Aloysius.

Terpisah, tim kuasa hukum RSIA Bunda Syukron Abdul Kadir, juga mengaku sudah terjadi perdamaian. Dengan demikian pihaknya menganggap semua perkara telah selesai. Ia juga menyangkal mengenai hilangnya hasil lab. Menurutnya, semua itu sudah dituangkan dalam point perdamaian. Terkait memberikan tali asih dalam akta perdamaian, ia menyangkal tidak ada.

Mengenai hasil lab, tidak materi dalam perdamaian. Nota perdamaian semua harus saling mengalah, legowo dan harus saling menghargai, dan semua diselesaikan secara kekeluargaan,”kata Syukron, didampingi Asrori.

Perlu diketahui, kasus itu bermula pada 8 Desember 2018. Novita mengalami pendarahan saat hamil muda sehingga dilarikan ke lnstalasi Gawat Darurat (IGD) RSIA Bunda Semarang. Ketika itu, Novita dinyatakan sebagai pasien rawat inap. Dalam perawatannya, ia ditangani oleh dr Nurvita Nindita, SpOG, dan disarankan untuk rawat inap sehari.

Dalam melakukan pemeriksaan dr. Nurvita Nindita, SpOG disebut akan berusaha menyelamatkan janin yang ada dalam rahim. Namun jika tidak terselamatkan maka akan dilakukan tes patologi anatomi melalui pengecekan laboratorium dengan menunggu jaringan yang keluar untuk mengetahui penyebab terjadinya keguguran.
Selang waktu beberapa jam dalam pemeriksaan tersebut, Novita mengeluarkan gumpalan darah berwarna merah kehitaman. Menurut dr, Nurvita Nindita, SpOG itu adalah jaringan.

Kemudian jaringan tersebut ditempatkan ke dalam tabung kecil oleh perawat yang sedang bertugas lalu akan dilakukan pemeriksaan ke laboratorium untuk melakukan uji lab Patologi Anatomi (PA).
Pada 9 Desember 2018 sekitar pukul 09:00 WIB dr Nurvita Nindita, SpOG, melakukan visit untuk mengecek kondisi Novita dengan Ultrasonography (USG) ulang. Hasilnya dinyatakan Novita diperbolehkan pulang.

Tetapi ia harus diwajibkan melakukan eek laborat terkait darah dan urine dengan hasil yang akan keluar pada seminggu kemudian.
Sebelum pulang Novita dimintai petugas administrasi membayar biaya selama perawatannya. Pembayaran sesuai kuitansi nomor kuitansi 95379, Nomor Regristrasi: RBl-18-12-0041 tertanggal 09 Desember 2018 dengan total sekitar Rp 2,9 juta.

Sementara menurut keterangan petugas rumah sakit, Novita dapat mengambil hasil laboratorium dan Patologi Anatomi (PA) bersamaan jadwal melakukan kontrol seminggu kemudian. Seminggu kemudian, 15 Desember 2018 Novita kontrol pertama.Kala itu hasil laboratorium belum terselesaikan. Novita lalu pulang. Tiba di rumah, pihak rumah sakit menelpon dan menginformasikan hasil laboratorium sudah dapat diambil. Keesokan harinya suaminya lalu mengambil hasil laboratorium tersebut dengan kondisi di dalam amplop yang masih tertutup atau tersegel.

Pada 20 Desember 2018, kontrol ke-2 dilakukan Novita dengan membawa hasil laboratorium. Dr. Nurvita Nindita, SpOG membuka hasil laborat tersebut karena sebelumnya belum pernah dibuka dan masih tersegel. Setelah amplop dibuka diketahui hasil laborat bernomor RLBRI00749 tanggal 9 Desember 2018 hanya berisi hasil laborat urin dan darah. Atas hal itu dr. Nurvita Nindita, SpOG melalui asistennya menanyakan ke bagian laboratorium. Namun laboratorium menyatakan tidak ada permintaan Novita untuk pengecekan Patologi Anatomi (PA) jaringan itu.

Karena hasil Patologi Anatomi (PA) jaringan tidak ada, Novita dan suami menanyakan kepada pihak rumah sakit untuk kejelasan mengenai informasi dan pertanggungjawaban terkait hal tersebut. Namun dari pihak rumah sakit disebut tidak memberikan informasi secara jelas dan terkesan saling lempar pertanggungjawaban. Singkat cerita, akhirnya terjadi pengaduan ke berbagai pihak dan berujung pada gugatan perdata di PN Semarang. (DMW/008).

Berita Terkini