oleh

Karyawan PT BAF Pekalongan Divonis 16 bulan Penjara

Pekalongan, faster.id – Hakim Pengadilan Negeri Pekalongan menjatuhkan vonis selama 16 bulan kurungan penjara terhadap mantan karyawan PT Bussan Auto Finance (BAF) Pekalongan, Cendy Listin Farezky.

Dalam amar putusannya, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah memenuhi unsur merugikan hak orang lain, dan sengaja menguasai baran milik orang lain, tanpa hak kepemilikan secara sah melawan hukum sebagaimana Pasal 378 KUHP Jo Pasal 65 KUHP.

“Terdakwa mengakui telah menguntungkan diri sendiri maupun menguntungkan orang lain sebesasr Rp225 juta, sebagaimana dalam surat dakwaan JPU. Terdakwa mengakui uang yang dipakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” ucap Ketua Majelis Hakim, Sutaji saat membacakan putusan pada Kamis (24/04/2020).

Sutaji mengatakan unsur barang siapa dengan sengaja menguasai barang milik orang lain dengan ungkapan rangkaian kata-kata bohong, bujuk rayu sehingga menimbulkan hutang dan menghapuskan hutang terpenuhi.

“Terdakwa mengetahui kelemahan SOP toko Elshinta Elektronik dimanfaatkan untuk menguasai sejumlah 97 unit, dengan mencampur antara konsumen kredit yang fiktif dan non fiktif,” ucapnya.

Putusan yang dijatuhkan majelis hakim dua bulan lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni 20 bulan kurungan penjara.  Terdakwa tak kuasa menahan kucuran air mata saat mendengarkan putusan yang lebih tinggi.

Menanggapi putusan majelis hakim, JPU dan penasehat hukum belum menentukan sikap.

“Kami fikir-fikir dulu majelis,” ujar JPU Susi Diani.

Dalam perbuatannya, terdakwa terbukti membuat bukti transfer palsu, handphone merk Vivo milik saksi-saksi dan mengakui telah mencampur permohonan konsumen fiktif dan non fiktif. Beberapa kerugian tokol Elshinta Elektronik Pekalongan telah menderita kerugian Rp225 juta.

Sementara, Penasehat Hukum terdakwa, Muhammad Dasuki menyatakan kliennya tidak mengajukan banding. “Pihak keluarga menerima. Sebetulnya, kami berharap banding karena tidak puasa dengan apa putusan hakim,” terang dia.

Dalam pertimbangan putusan, kata dia, hakim tidak mempertimbangkan kesalahan SOP sejak awal tidak diterapkan baik oleh pemilik toko Elshinta Elektronik Pekalongan, Pandu Winata. Dimana, sebelum terdakwa bekerja pun telah dilakukan kebiasan yang salah. “Klien kami tidak ada niat dan sengaja melanggar SOP. Sejak awal kesalahan itu merupakan kesalahan kolektif dengan karyawan toko Elshinta Elektronik, bukan semata-mata kliennya melakukan perbuatan itu berdiri sendiri,” beber dia.

Dalam nota pembelaannya, terdakwa mengakui memakai uang sebesar Rp50 juta dari hasil perbuatannya dengan modus pengajukan konsumen kredit fiktif. Tetapi, secara keseluruhan kerugian yang lain merupakan kebiasaan toko Elshinta yang tidak menerapkan SOP dengan baik, Sehingga yang dibebankan kesalahan adalah terdakwa. (007)

Berita Terkini