oleh

Miris, Ada Bullying di SD Ngaliyan

SEMARANG, FASTER.ID- Miris permasalahan bullying tak ada habisnya di negeri ini. Padahal jelas pelaku bullying terhadap anak dapat dipidana, hal itu telah tertuang sebagaimana aturan Undang-Undang nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Namun demikian tetap ada saja, perlakuan bullying. Seperti halnya yang dialami salah satu siswa SD kelas 2 di Ngaliyan, Semarang berinisial PAN.

Akibat perlakuan bullying dari teman-temannya membuat dirinya trauma untuk berangkat sekolah. Sekalipun sudah ada sikap dari kepala sekolahnya, setelah sang nenek mengadu. Namun tak ada perubahan pasti. Atas kejadian itu, Ketua Karang Taruna Kartini  Kota Semarang, Okky Andaniswari, didampingi anggota Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Rumah Pejuang Keadilan Indonesia (Rupadi), Fandila Susanti, datang menemui keluarga PAN. Hingga akhirnya dibawa menemui Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman atau akrab disapa Pilus, untuk duduk bersama membantu masa depan PAN.

Dari cerita yang diperoleh, Okky dan Fandilla, saat mengunjungi korban yang ditemani neneknya, Anifah. Kejadian kronologi yang dialami PAN, bermula akibat dari perlakuan kurang menyenangkan dari beberapa teman satu kelasnya. Sedangkan korban hidup dengan nenek dan kakeknya karena sejak bayi sudah ditinggal oleh ayah kandungnya, sedangkan ibu korban hanya bekerja di kantor koperasi di daerah Semarang.
Dari obrolan dengan korban, lanjutnya, ternyata bullying tersebut sudah diterima PAN sejak kelas 1. Bahkan dengan ingatan yang cukup kuat, korban masih mengingat teman-temannya yang selalu jahil kepadanya.

Jadi bullying yang diterima korban (PAN) tidak hanya lewat perkataan kasar, tapi kadang juga kekerasan fisik,”kata Okky Andaniswari, menceritakan kejadian yang ditemuinya, kepada wartawan, Selasa (17/12).

Bullying tersebut, puncaknya dirasakan korban saat naik ke kelas 2 SD, karena sering dipukul dengan kayu, bahkan ada yang sampai keningnya berdarah hingga harus dibawa neneknya ke Puskesmas Ngaliyan pada 8 November 2019 lalu. Korban juga bercerita kalau mulutnya pernah dimasuki kaos kaki.

Akibat tindakan-tindakan itu anak tersebut sampai menjadi demam tinggi dan takut berangkat sekolah. Karena merasa bingung nenek tersebut memutuskan untuk mencari sekolah dan ingin segera memindahkan cucunya,”sebutnya.

Dari pengakuan neneknya, diakui Okky, pihak kepala sekolah korban sudah pernah datang menemui keluarga dan meyakinkan nenek-nya kalau tidak akan terjadi bullying tersebut. Karena korban tetap masih merasa takut nantinya tetap mengalami bullying saat sudah datang ke sekolah lagi.

Atas masalah itu, diakuinya, neneknya sudah meminta bantuan kepada Dinas Pendidikan Kota Semarang. Namun belum ada kepastian untuk cucunya bisa bersekolah lagi hingga sekarang.

Nenek Anifah juga sempat jatuh sakit memikirkan nasib cucunya ke depan bagaimana untuk pendidikannya. Makanya kami pertemukan dengan pak Kadarlusman untuk mengadukan masalah ini,”jelasnya.


Kadarlusman Berharap Jangan Ada Bullying di Pendidikan

Saat menerima kunjungan Anifah dengan Okky dan korban, Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman, mengaku menyayangkan masih ada kejadian bullying di dunia pendidikan. Padahal, seharusnya pendidikan menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk anak-anak menimba ilmu dan bersekolah.

Kami berharap tidak ada lagi kejadian seperti ini, khususnya di dunia pendidikan. Bagaimanapun menjadi tugas guru di sekolah untuk mengayomi, dan memperhatikan kejadian-kejadian yang menimpa muridnya,”ungkap pria yang akrab disapa Pilus tersebut. (OAN/008)

Berita Terkini