oleh

Pengasuh Ponpes Mandiri Klaim Tanah Diserobot

Faster.id, Semarang – Pemilik dan Pengasuh Pondok Mandiri, Daarussalaaf Meteseh, Muhammad Anwar Sadad, Nur Hikmanto dan Iswanah, klaim tanah yang sertifikat tanah diserobot notaris kondang Prof Liliana Tedjosaputro dan Edward Sardono Tedjosaputro. Hal itu menyusul gugatan yang telah teregister perkara nomor : 16/ Pdt.G/2020/PN.Semarang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

Silsilah tanah saya awalnya dari Kaeruman Kardi tahun 1984 dulu leter C, disahkan sertifikat 1989 pas sudah di jual ke Ida Zubaedah. Baru dibeli pak Muh Soewindi 2011 berlanjut ke saya tahun 2015,” kata Muhammad Anwar Sadad, didampingi kuasa hukumnya, Taufiqurrahman selaku Direktur LBH Ratu Adil, Bambang Adhi Pamungkas dan Tajri, Kamis (05/03/2020).

Ia menceritakan perolehan hak milik atas tanah seluas 1690 m2 yang diklaimnya milik notaris kondang Semarang itu dibeliknya senilai Rp3 miliar pada 2015. Pembelian itu berawal dari Muh Soewindi yang diagunkan di Bank Mandiri sebanyak 3 sertifikat.

Kami juga punya sertifikat tanah sebanyak 3. Dulu dibeli dari Muh Soewindi tahun 2015 totalnya sekitar Rp3 miliar, luasnya hampir 2 hektar, asal tanah sejak 1989. Tapi saya beli nebus dulu di Bank Mandiri, karena sertifikatnya di anggunkan, bahkan saya kena penalti juga,” ungkapnya.

Sidang saat ini beragendakan pembuktian dari penggugat. Penggugat mengajukan beberapa bukti kepemilikan atas bukti sertifikat nomor 22 dan nomor 23 milik Tergugat. Padahal dari awal pembelian sudah diceking Badan Pertanahan Nasional Kota Semarang tidak bermasalah.

Diketahui, tanahnya seluas 1690 meter persegi sebagian sudah dibangun pondok sebanyak 8 unit dan masjid.
Masjid memang tidak kena serobot, yang diserobot hanya ada 2 sertifikat, jadi sertifikat nomor 22 dan nomor 23,” tandasnya.

Dijelaskannya, sengketa tersebut terjadi pada 12 Desember 2019, saat itu tanah dan bangunan yang diklaim sebagai lokasi pondok didatangi oleh orang yang mengaku pemilik sertifikat tanah. Sedikitnya ada 3 rombongan mobil, kemudian datang langsung memasang patokan dan mendodok rumah-rumah di lokasi. Padahal, lanjutnya, tanah dan bangunan itu sudah dihuni Maret 2016, letaknya di daerah bukit Mutiara Jaya III, RT 8 RW 28, Kelurahan Meteseh, Tembalang. Sebelumnya masuk di Kecamatan Semarang Selatan.

Terpisah, salah satu kuasa hukum Edward Sardono, Monalisa CF Daniel, mengatakan sebagaimana informasi mengenai batas tanah yang disebut Anwar selaku tergugat I didalam jawabannya mengenai batas sebelah timur milik Oqke tentunya dalil yang tidak benar dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya, karena Oqke sama sekali tidak pernah mempunyai hak atas tanah tersebut.

Selain itu, lanjutnya, Oqke semasa hidupnya juga pernah mendatangi ibu dari kliennya untuk membeli tanah sebelah timur milik ibu kliennya. Sedangkan sebelah barat milik kliennya bukan tanah kosong milik PT Jaya Metro melainkan tanah milik kliennya, yang detailnya akan dibuktikan dalam pembuktian.

Dengan demikian dalil tergugat I yang menyatakan bahwa penggugat datang melalui orang suruhannya untuk menakut-nakuti sehingga membuat warga menjadi resah hanya alasan yang dicari-cari dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya,” bebernya.

Monalisa juga menilai, kalau Nur Hikmanto dan Iswanah yang menyatakan hanya menempati objek sengketa semakin memperjelas bahwa keduanya berusaha lari dari tanggungjawab hukum. Termasuk terkait menganggap dalil keduanya yang menyatakan gugatan error in persona adalah alasan yang dicari-cari dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya. karena jelas jelas tergugat II dan III menempati tanah milik kliennya.Untuk itu seharusnya majelis hakim layak menolak eksepsi keduanya.

Nanti akan kami perlihatkan dalam pembuktian, kami punya banyak saksi-saksi yang mendukung gugtaan, termasuk bukti-bukti ada banyak,”sebutnya. (006)

 

Berita Terkini