oleh

Triatman Kenakan Toga Advokat Saat Dikremasi

Faster.id, Semarang – Santoso H Triatman SH, menghembuskan nafas terakhirnya pada Selasa (2/06/2020).  Sosok salah satu advokat senior kota Semarang dan Jawa Tengah yang telah berpraktik lebih dari 40 tahun meninggal diusianya ke-77 tahun, karena komplikasi. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia meminta kepada keluarganya dalam proses pengkremasan agar dipakaikan toga advokat.

Dalam pengkremasan  cukup menarik di Krematorium Kedungmundu Semarang, Sabtu pagi (06/06/2020). Jenazah yang sudah dikremasi untuk di semayamkan di Tiong Hwa Ie Wan Arteri Yos Sudarso memakai toga advokat.

Bagaimana proses pengkremasan jenazah Santoso H Triatman yang hidupnya mendedikasikan dan menghargai profesinya sampai berpesan kepada keluarga agar dipakaikan toga advokat saat meninggal dunia?

Jenazah yang merupakan advokat senior yang telah malang melintang praktik di hukum melebihi jam terbang pengacara nomor pertama Indonesia Hotman Paris Hutapea. Beberapa kasus perkara yang ditangani pernah heboh adalah dugaan korupsi senilai Rp20 miliar Asrama Haji Donohudan Boyoalali dengan terdakwa mantan Gubernur Jateng Mayjen TNI (Purn) Soewardi.

Bagaimana sosok almarhum dimata sahabatnya yang berprofesi sama, Broto Hastono ?

Bagi Broto Hastono, pria yang suka hoby menggambar (sketsa) disela-sela kesibukannya saat menunggu antrean sidang. Menurutnya almarhum dimatanya adalah guru, sekaligus orangtuanya yang banyak memberikan bekal ilmu hukum, serta ilmu memahami hidup dan kehidupan.

Ketika diawal saya membantu beliau menangani perkara korupsi yang termasuk baru di Jawa Tengah menyangkut asrama Haji Donohudan Surakarta,” ucap Broto kepada Faster.id, Minggu (07/06/2020).

Selama mengenal sosok almarhum, Broto menyebut profesi yang digeluti sampai akhir hayatnya yang tetap memakai toga merupakan profesi yang terhormat dan patut dihargai mahal. Karena itu, advokat merupakan salah satu pilar penegak hukum. “Kebanggaan itu harus tetap melekat sepanjang hayat dan bahkan ketika nyawa telah bepisah dengan raga,” imbuhnya.

Para pentakziyah yang berlatar belakang advokat dan pengacaranya pun menghormati almarhum serupa memakai toga. “Pengiring advokat yang bertoga itu merupakan pesan beliau, bahkan jauh ketika beliau masih sehat pun sudah demikian,” terangnya.

Ketua DPC Peradi Semarang itu pun selama mengenal sosok almarhum banyak pelajaran dipetik dalam menjalankan tugas dan profesinya, khususnya kepada advokat pemuda dan pemula harus betul-betul memberikan andil dalam penegakkan hukum.

Beliau menjadi advokat lebih dari 40 tahun, dan harus dipetik bagi kita bahwa advokat adalah profesi, jangan hanya mengejar keuntungan materi, namun juga andil dalam penegakan hukum dan keadilan yang diutamakan,” pungkas Broto. (007)

Berita Terkini